Arsip untuk Januari 2008




TEMPE SEBAGAI MASALAH NEGARA

Negara ini memiliki daftar masalah yang sangat panjang. Yang satu belum selesai, yang lain muncul. Masalah negara seperti beranak cucu di Republik ini.

Yang lebih menyedihkan ialah timbulnya masalah baru yang sifatnya elementer. Masalah baru, karena sejak zaman penjajahan tidak pernah menjadi masalah. Eh, sekarang, setelah lebih 62 tahun merdeka, ia menjadi persoalan negara.

Masalah elementer karena menyangkut lauk pokok rakyat banyak. Namanya tempe. Bahkan, inilah lauk yang semakin diakui khasiat dan gizinya. Ia merupakan alternatif yang canggih dan murah untuk menghindari kolesterol jahat. Sebagai gambaran, baru sekitar Perang Vietnam, nilai gizi yang tinggi itu disadari oleh orang Amerika. Sejak itu sejumlah buku ditulis di Amerika mengenai keunggulan tempe.

Makhluk yang bernama tempe itu, beberapa hari ini harganya meroket, sehingga rakyat protes. Kiranya inilah pertama kali terjadi dalam sejarah negara ini bahwa ribuan rakyat di sekitar megapolitan (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) berdemonstrasi ke Istana karena tempe.

Tempe menjadi barang langka. Penyebabnya karena kedelai menghilang dari pasar. Kalaupun ada di pasar, harganyapun selangit. Yaitu, naik 150% selama enam bulan terakhir.

Karena bahan baku untuk membuat tempe langka, tempepun menghilang dari pasar. Kalaupun diproduksi, harganyapun selangit, seiring selangitnya harga kedelai. Karena harganya mahal, tempe tidak laku. Pedagang yang masih berani jualan tempe merugi.

Tempe mendadak sontak menjadi masalah strategis. Ternyata, negara bukan saja belum mampu menyelesaikan urusan pangan yang pokok, yaiutu beras, tetapi juga subpangan, yaiutu tempe yang merupakan lauk murah meriah dan bergizi tinggi.

Masalah beras dan tempe menunjukkan RI adalah negara agraris yang memble, kata kamus, yaitu terkelepai ke bawah, bodoh, dungu.

Mengapa? Jawabnya, tegas, karena negara ini tidak memiliki politik pertanian yang jelas. Bahkan, lebih tajam lagi, tidak punya arah kemana negara hendak dibawa sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan yang pokok.

Buktinya, gampang dan banyak. Negara membiarkan dan merestui sawah yang terbaik untuk padi digusur oleh realestat dan kawasan industri. Negara lebih memilih mengekspor gas, dengan mengorbankan pabrik pupuk di dalam negeri kelenger dan mampus. Negara tidak memberi insentif yang menggairahkan petani untuk menanam padi. Padahal, sebaiknya, dengan mengimpor beras, negara ini justru menghidupi petani negara lain.

Kelangkaan kedelai adalah juga akibat politik pertanian yang tidak peduli pada kemampuan menghasilkan kedelai dalam negeri. Dari tahun ke tahun yang terjadi ialah produksi kacang kedelai lokal menurun dan semakin besar tergantung kepada impor.

Tempe telah naik panggung politik menjadi masalah negara yang serius. Serius karena menunjukkan kedunguan negara. Dungu, tidak sanggup mengurus perkara elementer, yaitu lauk rakyat sehari-hari.

Pelajaran yang dapat dipetik ialah tak perlu muluk-muluk amat mengimpikan presiden yang ideal. Kalau ada yang kampanye nyanyian surga pada Pemilu 2009 tutup saja telinga kanan dan kiri.

Baru buka telinga, kalau ada yang janjinya sederhana, mampu menyediakan beras dan tempe dengan harga murah. Sebab, dibelakang janji beras dan tempe itu, sesungguhnya bersemayam politik pertanian dan strategi pemenuhan pangan yang cemerlang.

Iklan

1 komentar Januari 15, 2008

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category